Pendidikan di Indonesia sekarang ini semakin hari semakin tidak jelas arah yang akan di raih untuk anak didiknya di masa akan datang. Setiap siswa mau menghadapi Ujian Nasional semua orang tua, guru, Lembaga bingung dan cemas kalau anak yang mereka sayang dan didik tidak lulus dalam Ujian Nasional. Lha inilah carut marut awal pendidikan Indonesia, kenapa demikian ? bukan rahasia umum lagi, bahwa segala cara ditempuh oleh orang tua, guru maupun lembaga untuk meluluskan siswanya 100%. Gara-gara hal ini pendidikan yang diinginkan UUD'45 tidak tercapai malah carut marut tidak karuan juntrungnya.
Dan nilai yang dihasilkan oleh siswa tersebut sama sekali tidak bisa menjadi tolak ukur untuk mereka sukses di perguruan tinggi ataupun dalam lapangan kerja. Masih banyak hal yang menyebabkan orang mapan pola pikirnya dalam menghadapi masalah untuk menguraikannya, kepandaian psikomotorik juga sangat berpengaruh pada kesuksesan seorang anak nantinya. Jadi sekarang ini SDM yang dibutuhkan oleh suatu lembaga ataupun perusahaan adalah individu yang multi skill bukan hanya kognitif saja, tetapi juga psikomotorik maupun afektifnya.
Bukan rahasia lagi bahwa anak-anak yang waktu sekolah mempunyai kualitas pendidikan C malah kebanyakan jadi pengusaha yang sukses, karena anak-anak ini mempunyai kelebihan psikomotorik yang lebih menonjol dan mempunyai kepandaian untuk membangun relasi yang luas. Dan banyak pula anak-anak yang nilai afektifnya C malah menjadi pejabat ataupun pengusaha sukses.Maka sangatlah tidak benar menentukan kualitas kelulusan anak hanya melalui test kognitif yang di setandarkan di seluruh Indonesia, karena kondisi masyarakat pastinya tidak sama dan kemampuan anak dalam menguasai suatu bidang pembelajaran pasti berbeda-beda.
Dan yang paling tahu kondisi atau kemampuan kognitif, psikomotorik ataupun afektif suatu anak atau siswa pastilah guru yang setiap hari bersentuhan langsung dengan mereka.Sangatlah tidak pas kalau ada standar yang dibuat pemerintah untuk mengukur kualitas suatu anak hanya dengan 3, 4 ataupun enam pelajaran saja. Banyak diluar sana anak atau siswa yang sukses hidupnya hanya pinter menyanyi atau main band tapi waktu sekolah biasa-biasa saja malah ada yang ekstrem tidak lulus Ujian Nasional. Ada salah satu siswa saya yang tidak lulus UN tetapi dia ikut paket C. Tetapi yang saya tahu karena sering ketemu, dia bisa membayar biaya kuliah sendiri dan mampu beli kendaraan roda dua hanya dari menyanyi dan melatih band.Jadi kurang pas dan tidak adil dari contoh saya di atas, bahwa anak yang jelas mempunyai skill kehidupan yaitu seni hanya gara-gara matematika lemah harus tidak menerima ijasah SMA tetapi hanya menerima ijasah paket C, padahal dia jelas-jelas sekolah di SMA selama 3 tahun ?????!!!!! dengan berbagai biaya kehidupan yang cukup lumayan untuk mengikuti pendidikan di SMA.
Jangan mengorbankan pendidikan anak-anak kita hanya demi suatu proyek yang kita inginkan, berdosalah kita sebagai warga negara Indonesia, mengapa saya bisa bicara demikian ???!!!. Bayangkan berapa Trilyun tender yang dilakukan pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan untuk melaksanakan UN dari tingkat SD sampai SMA/SMK/MA/MAN dalam hal pembuatan LJK, Soal,Pengawas,Team Idependen dll.Yang saya tahu secara resmi semua pejabat dari menteri ke bawah mendapatkan bagian dari tender tersebut!!!!! apa sebaiknya bukan untuk mendukung program lain yang lebih meningkatkan mutu SDM Guru dan anak didiknya Pak Menteri??!!. Jika pejabat mulai dari Presiden, Menteri dan anak buahnya mau sedikit mengalah pada masyarakat kecil, saya kira Indonesia Maju dan Makmur melebihi Amerika Serikat. Bagus sekali kalau Presiden dan Menteri serta pejabat yang lain selalu memberi teladan pada masyarakat lewat tayangan televisi seperti "Jika Aku menjadi...........".Waduh bisa-bisa Indonesia Good Country Pak SBY dan konco-konco !!!!!!!
Dan nilai yang dihasilkan oleh siswa tersebut sama sekali tidak bisa menjadi tolak ukur untuk mereka sukses di perguruan tinggi ataupun dalam lapangan kerja. Masih banyak hal yang menyebabkan orang mapan pola pikirnya dalam menghadapi masalah untuk menguraikannya, kepandaian psikomotorik juga sangat berpengaruh pada kesuksesan seorang anak nantinya. Jadi sekarang ini SDM yang dibutuhkan oleh suatu lembaga ataupun perusahaan adalah individu yang multi skill bukan hanya kognitif saja, tetapi juga psikomotorik maupun afektifnya.
Bukan rahasia lagi bahwa anak-anak yang waktu sekolah mempunyai kualitas pendidikan C malah kebanyakan jadi pengusaha yang sukses, karena anak-anak ini mempunyai kelebihan psikomotorik yang lebih menonjol dan mempunyai kepandaian untuk membangun relasi yang luas. Dan banyak pula anak-anak yang nilai afektifnya C malah menjadi pejabat ataupun pengusaha sukses.Maka sangatlah tidak benar menentukan kualitas kelulusan anak hanya melalui test kognitif yang di setandarkan di seluruh Indonesia, karena kondisi masyarakat pastinya tidak sama dan kemampuan anak dalam menguasai suatu bidang pembelajaran pasti berbeda-beda.
Dan yang paling tahu kondisi atau kemampuan kognitif, psikomotorik ataupun afektif suatu anak atau siswa pastilah guru yang setiap hari bersentuhan langsung dengan mereka.Sangatlah tidak pas kalau ada standar yang dibuat pemerintah untuk mengukur kualitas suatu anak hanya dengan 3, 4 ataupun enam pelajaran saja. Banyak diluar sana anak atau siswa yang sukses hidupnya hanya pinter menyanyi atau main band tapi waktu sekolah biasa-biasa saja malah ada yang ekstrem tidak lulus Ujian Nasional. Ada salah satu siswa saya yang tidak lulus UN tetapi dia ikut paket C. Tetapi yang saya tahu karena sering ketemu, dia bisa membayar biaya kuliah sendiri dan mampu beli kendaraan roda dua hanya dari menyanyi dan melatih band.Jadi kurang pas dan tidak adil dari contoh saya di atas, bahwa anak yang jelas mempunyai skill kehidupan yaitu seni hanya gara-gara matematika lemah harus tidak menerima ijasah SMA tetapi hanya menerima ijasah paket C, padahal dia jelas-jelas sekolah di SMA selama 3 tahun ?????!!!!! dengan berbagai biaya kehidupan yang cukup lumayan untuk mengikuti pendidikan di SMA.
Jangan mengorbankan pendidikan anak-anak kita hanya demi suatu proyek yang kita inginkan, berdosalah kita sebagai warga negara Indonesia, mengapa saya bisa bicara demikian ???!!!. Bayangkan berapa Trilyun tender yang dilakukan pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan untuk melaksanakan UN dari tingkat SD sampai SMA/SMK/MA/MAN dalam hal pembuatan LJK, Soal,Pengawas,Team Idependen dll.Yang saya tahu secara resmi semua pejabat dari menteri ke bawah mendapatkan bagian dari tender tersebut!!!!! apa sebaiknya bukan untuk mendukung program lain yang lebih meningkatkan mutu SDM Guru dan anak didiknya Pak Menteri??!!. Jika pejabat mulai dari Presiden, Menteri dan anak buahnya mau sedikit mengalah pada masyarakat kecil, saya kira Indonesia Maju dan Makmur melebihi Amerika Serikat. Bagus sekali kalau Presiden dan Menteri serta pejabat yang lain selalu memberi teladan pada masyarakat lewat tayangan televisi seperti "Jika Aku menjadi...........".Waduh bisa-bisa Indonesia Good Country Pak SBY dan konco-konco !!!!!!!
